Telpon: 0370-6177440 Email: [email protected]

Sosialisasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana

Datangnya resiko akan bencana tidak bisa diprediksi. Belum tuntas penanganan gempa bumi Lombok 2018 yang meluluh lantahkan rumah dan infrastruktur, bahkan masih dalam proses pemulihan, bencana non alam berupa Pandemi Covid 19 kembali melanda. Tingginya resiko bencana alam dan non alam ini memacu kita harus membangun kesiapsiagaan menuju ketangguhan akan bencana. Dan salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk Kelurahan Tangguh Bencana.


Program ini menjadi prioritas kegiatan BPBD kedepannya hingga 50 kelurahan. Demikian yang di sampaikan Kepala BPBD kota Mataram bapak Mahfuddin Noor, S.Sos, dalam sambutannya yang diwakili oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan L. Saharudin S.Sos. dalam acara pembukaan kemarin.


Besarnya Resiko berbanding lurus dengan Tingkat bahaya bencana dan tingkat Kerentanan kondisi lingkungan, namun berbanding terbalik dengan tingkat kapasitas Daerah. Jika bahaya dan kerentanan sulit utk diatasi maka sebagai alternatif kita harus meningkatkan Kapasitas kita menghadapi Bencana. Bencana harus dihadapi secara terorganisir, sistematis dan simultan. Lima elemen bangsa atau dikenal dengan nama PENTAHELIX, yakni pihak Pemerintah, Masyarakat, pihak swasta, para ahli/akademisi, serta para media harus bahu membahu menghadapi Bencana, Demikian disampaikan dalam sessi pemaparan Resiko Bencana oleh Andi Kurniawan, S.Si. MT,  Kepala Bidang kedaruratan dan logistik BPBD Kota Mataram.


Untuk membangun kesiapasiagaan dan ketangguhan dibutuhkan kemandirian masyarakat mulai dari Desa atau kelurahan sebagai satuan wilayah administrasi terdepan, yang kita kenal dengan Destana atau Desa/Kelurahan Tangguh Bencana. Sebagai langkah awal gerakan Destana ini dikota Mataram, dimulai dengan sosialisasi pembentukan selama tiga hari berturut turut di 3 kelurahan Yakni Kelurahan Dasan Agung kecamatan Selaparang, Kelurahan Bertais Kecamatan Sandubaya dan Kelurahan Ampenan Tengah kecamatan Ampenan, selama tiga hari dari hari Senin tgl 11 Oktober hingga Rabu tanggal 13 oktober 2021 kemarin. 


Dalam Sesi pemaparan Pembentukan Forum Pengurangan Resiko bencana berbasis komunitas, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Multajam, S.Sos. juga menyampaikan bahwa Kegiatan Sosialisasi ini bertujuan utk membangun kesadaran masyarakat akan Resiko bencana dan menginisiasi pembentukan Destana, dimana masyarakat dengan komunitas komunitasnya ditekankan untuk proaktif dalam melakukan tahapan-tahapan kegiatan sehingga memenuhi persyaratan terbentuknya Destana. Mulai dari Pembentukan Forum Pengurangan Resiko bencana, rekrutmen dan mengorganisir para relawan untuk bersama-sama membuat Perencanaan Penanggulangan Bencana, melaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan dan simulasi serta kegiatan lainnya.



Kegiatan ini disambut baik dengan antusiasme warga masyarakat, yang mengambil bagian sebagai peserta kegiatan termasuk para Kepala lingkungan, para kader, dan Toga Toma, bersama Bapak-bapak Babinsa TNI-AD dan Babinkamtibmas Pol dengan para linmas kelurahan setempat. Dalam forum ini juga disampaikan permasalah-permasalah warga terkait trouma menghadapi setiap pemadaman listrik PLN yang selalu dikonotasikan sebagai awal tanda bencana gempa bumi. Dan hal ini kemudian menjadi penguat bahwa dengan Terbentuknya Destana akan jelas alur informasi peringatan dini dari BPBD, PLN BMKG atau sumber lain kepada Nara hubung yg ditunjuk untuk bisa disebarluaskan ke khalayak masyarakat dengan cara dan metode yg disepakati utk menghindari informasi palsu yg meresahkan dan membingungkan warga. Sedangkan bila terjadi kedaruratan dapat melaporkan kejadian tersebut dengan menghubungi call center kedaruratan di nomor  112.

Related News